Pelaihari Membangun

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Taman Kijang Kencana

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selamat Datang di Kota Pelaihari

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, December 3, 2010

Dasyatnya Kekuatan Istighfar

Kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan masalah. Rasanya, hampir tidak ada orang yang tidak punya masalah. Semua orang punya masalah. Besar kecilnya masalah setiap orang berbeda-beda, demikian pula dengan jenis masalah yang dihadapinya. Masalah finansial, masalah cinta, masalah keluarga, masalah kesehatan, ataupun masalah-masalah lainnya.

Munculnya masalah, apapun jenisnya, pasti menuntut adanya solusi. Bila solusi itu belum datang, kening sebagian orang sering dibuat berkerut dan wajahnya selalu cemberut. Malah ada yang stres, atau bahkan sampai bunuh diri. Semua tergantung kekuatan mental dan kesabaran seseorang dalam menghadapinya. Untuk mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapi, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda pula. Tentunya, hal itu juga tergantung jenis masalah yang dihadapi. Dalam masalah kesehatan misalnya, ada sebagian orang yang lebih memilih cara realistis, yaitu dengan cara berobat ke dokter. Tetapi ada pula yang memilih cara yang dianggap sebagian orang kurang realistis, seperti dengan melakukan pengobatan alternatif. Menurut saya, apapun caranya yang penting tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di sini, saya hanya ingin mengingatkan satu hal yang sering terlupakan oleh kita. Apa itu?

Dialah istighfar. Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah swt. atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Loh, apa kaitannya antara masalah yang kita hadapi dengan dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan? Memang tidak ada yang bisa menafsirkan secara pasti keterkaitan antara keduanya. Tidak ada yang dapat memastikan, munculnya masalah dalam kehidupan seseorang adalah akibat dosa yang telah dia lakukan. Sebab, ada kemungkinan pula munculnya masalah tersebut hanya sebagai cobaan baginya, apakah dia kuat menghadapinya ataukah tidak. Yang mengetahui secara pasti hanyalah Allah swt..

Tetapi bila kita kembali kepada konsep cinta, maka kita dapat mengetahui mengapa kita harus memperbanyak istighfar, apalagi saat sedang menghadapi masalah. Biasanya, seseorang yang mencintai orang lain, apalagi bila cintanya begitu menggebu-gebu, maka dia rela memberikan apa saja yang dia miliki kepada orang yang dicintainya. Demikian pula dengan Allah, bukan maksud hati ingin menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya. Tetapi dalam masalah cinta, ternyata aturan yang ditetapkan Allah pun hampir sama.

Dalam sejumlah ayat atau hadits, kita dapat melihat bahwa bila Allah telah mencintai seseorang, maka apa yang dia minta akan dikabulkan oleh-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt. berfirman: “Jika Aku telah mencintainya, maka aku akan menjadi pendengaran baginya yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan baginya yang digunakannya untuk melihat, tangannya yang akan digunakannya untuk berbuat dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya (apa yang dia minta); dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan memberikan perlindungan itu kepadanya.”

Allah swt. mencintai orang-orang yang bertakwa, dan Dia akan memberikan kemudahan dan jalan keluar bagi setiap masalah yang mereka hadapi. Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 2-3) Di ayat lain, Allah juga berfirman: “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 4)

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita dapat dicintai Allah? Mungkin jawabannya ada pada pepatah Jawa yang berbunyi “Witing tresno jalaran soko kulino” (Munculnya cinta adalah karena kebiasaan), atau pepatah Indonesia yang berbunyi “Tak kenal maka tak sayang”. Artinya, untuk mendapatkan cinta Allah, seorang hamba harus melewati tahap PDKT (pendekatan). Tanpa melewati tahap tersebut, sulit rasanya seseorang dapat meraih cinta Allah. Lalu, bagaimana caranya melakukan pendekatan (atau dalam bahasa Arabnya disebut taqarrub) kepada Allah?

Salah satunya adalah dengan cara memperbanyak dzikir. Allah swt. berfirman: “”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan).” (QS Albaqarah [2]: 152). Salah satu cara berdzikir adalah istighfar. Dengan istighfar, berarti seseorang memohon kepada Allah agar dosa-dosanya diampuni. Bila permohonan ampunannya itu dikabulkan Allah, maka berarti dosa-dosanya akan diampuni Allah. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi tirai yang menghalangi kedekatan antara dirinya dengan Allah. Sebab, dosa merupakan tirai penghalang antara seorang hamba dengan Allah.

Tetapi perlu diingat, istighfar yang dimaksud di sini bukanlah istighfar sebatas ucapan saja, atau hanya diucapkan dalam mulut saja. Tetapi harus benar-benar diresapi, dihayati dan diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Maksudnya, seseorang yang beristighfar harus benar-benar mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Di akhir tulisan ini, saya ingin menyebutkan satu kisah yang mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Konon, di Mesir ada seorang laki-laki kaya yang shaleh. Selama beberapa hari, dia tidak menemukan satu cara pun untuk mengairi sawah miliknya hingga tanam-tanaman yang ada di dalamnya hampir mengering. Dia pun duduk di tengah sawahnya yang luas itu. Lalu dia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman dan sungguh firman-Mu selalu benar: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.’ Wahai Tuhan, sekarang aku memohon ampunan kepada-Mu dengan harapan Engkau akan melimpahkan rahmat-Mu kepada kami.” Kemudian orang itu memohon ampunan kepada Allah selama beberapa jam dengan penuh semangat dan keyakinan akan janji Allah swt.. Tidak lama kemudian, langit tertutup awan, lalu hujan pun turun dengan derasnya. Sebagaimana diketahui, ketika orang-orang shaleh tertimpa satu masalah, maka mereka langsung memohon pertolongan kepada Allah dengan cara beristighfar kepada-Nya, hingga terwujudlah janji Allah yang diberikan kepada mereka: “dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu”.
Wallaahu A’lam

Utsman, Sosok Pemimpin Yang Tidak Rakus

Utsman memegang tampuk kekuasaan setelah Umar bin Khathab meninggal dunia. Dia adalah orang yang paling utama dan paling baik setelah Abu Bakar dan Umar. Pada masa kekuasaannya, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas. Allah swt menaklukkan banyak negeri untuk kaum muslimin, di antaranya adalah pulau Cyprus, negeri Khurasan, Armenia, dan negeri Maroko (Maghrib).

Pada saat itu, harta-harta yang datang kepada kaum muslimin dari setiap daerah semakin bertambah. Meskipun demikian, Utsman bukanlah manusia yang rakus terhadap kehidupan dunia. Meskipun sebelum dan sesudah masuk Islam, Utsman merupakan orang yang kaya, akan tetapi ketika memegang jabatan khalifah, dia hidup dengan sederhana. Dia memakan makanan seperti makanan para pegawai pemerintahan lainnya, bahkan terkadang dia hanya makan cuka dan minyak goreng.

Dia pernah masuk ke dalam masjid untuk tidur di dalamnya dengan menggunakan tikar sebagai alas dan tangan sebagai bantalnya. Bahkan, tikar itu telah meninggalkan bekas di bagian punggungnya, hingga ketika kaum muslimin melihat hal itu, mereka pun berkata, “Ini adalah Amirul Mukminin.” Jika ada seseorang datang meminta sesuatu kepadanya, maka dia tidak menyuruhnya pulang kecuali keperluan orang itu telah terpenuhi.

Pada malam hari, Utsman bangun guna melakukan shalat tahajud. Dia tidak membangunkan pembantunya meskipun dia membutuhkan bantuannya karena dia merupakan orang yang sangat tua. Maka, sebagian orang berkata kepadanya, “Bangunkan pembantu-pembantumu agar mereka dapat membantumu.”

Utsman menjawab, “Sesungguhnya kita (harus) memperbantukan mereka hanya pada siang hari, karena malam hari merupakan waktu untuk mereka. Maka, biarkanlah mereka tidur.”.

Semangat dan sikap keras Utsman tidaklah lebih kecil daripada semangat dan sikap keras Umar. Bahkan, dia bersikap sangat keras kepada orang-orang yang melakukan perbuatan yang salah. Pada masanya, ada sejumlah kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh orang-orang seperti berburu burung merpati. Maka, Utsman memberikan dorongan kepada setiap orang yang mau menghentikan kebiasaan para pemuda yang suka berhura-hura, berburu merpati, dan meminum minuman keras, hingga orang-orang pun mau kembali lagi kepada kebenaran.

Pada masa kepemerintahannya, kaum muslimin hidup dalam kondisi yang paling baik. Orang-orang mendapatkan harta dengan mudah. Maka, Utsman selalu berseru kepada orang-orang, “Marilah kesini dan ambillah harta dari Baitul Maal.” Orang-orang pun berbondong-bondong datang ke Baitul Maal untuk mengambil harta.

Utsman, lalu, berseru, “Ambillah keju dan madu ini.” Orang-orang pun datang untuk mengambil keju dan madu. Tidak hanya itu, mereka juga mengambil pakaian, minyak misk, dan anggur kering (kismis), hingga rumah-rumah kaum muslimin pun penuh dengan berbagai kenikmatan. 

Wednesday, November 3, 2010

"SETIAP ANAK ADAM PERNAH BERBUAT SALAH”

Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Namun ada juga orang-orang pilihan Allah SWT yang tidak pernah berbuat dosa, akan tetapi mereka pernah melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan Allah SWT langsung menegurnya. Mereka itu adalah para Nabi dan Rasul, yang menjadi suri tauladan bagi pengikut-pengikutnya, mereka diberi Allah SWT sifat ma’shum (dijaga agar tidak berbuat dosa). Sekalipun tidak pernah berbuat dosa, para Nabi itu juga pernah berbuat kesalahan-kesalahan kecil…yang kemudian diingatkan langsung oleh Allah agar segera diperbaiki. Sebagai contoh beberapa kesalahan kecil yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul antara lain:

  • Kesalahan nabi Musa saat berguru kepada nabi Kidir. Nabi Musa kurang bersabar dalam menerima ilmu dari nabi Kidir hingga 3 kali melakukan kesalahan yang sama, sehingga nabi Kidirpun akhirnya meninggalkan nabi Musa.
  • Kesalahan nabi Yunus, kurang sabarnya dalam berdakwah dalam membimbing kaumnya. Dalam dakwahnya tidak satupun kaumnya yang mau mengikuti ajaran nabi Yunus sehingga nabi Yunus putus asa dengan meninggalkan kaumnya… Kesalahan nabi Yunus ini harus ditebus berupa ujian dari Allah, ditelannya nabi Yunus dalam perut ikan Paus selama beberapa hari hingga akhirnya dimuntahkan ke daratan…agar kembali lagi berdakwah kepada kaumnya, yaitu kaum Niwana. Ternyata kaum nabi Yunus sangat merasa kehilangan dengan perginya nabi Yunus dan akhirnya seluruh penduduk Niwana kembali mengikuti ajaran nabi Yunus.
  • Kesalahan Rasulullah Muhammad SAW:

- Saat beliau berjanji kepada umatnya yang menanyakan berapa tahun pemuda-pemuda Kahfi ditidurkan Allah…didalam goa dan Rasul begitu yakin bahwa keesokan harinya pasti Allah memberi tahu Rasul lewat turunnya wahyu melalui malaikat Jibril. Kesalahan Rasul ini, Allah langsung menegurnya hingga turun surah Al-Kahfi [19]: ayat 23 dan ayat 24.

- Kesalahan Rasulullah Muhammad yang lain adalah saat berjanji pada istri-istrinya (akibat saling cemburu istri yang satu dengan yang lain) bahwa Rasul berjanji selamanya tidak akan minum madu. Kesalahan ini, Allah langsung menegurnya lewat turunnya surah At-Tahrim [66]: ayat 1 s/d ayat 5.

Diriku, dirimu dan diri kita semua (yang merasa sebagai manusia) tidak akan pernah luput dari yang namanya “dosa”. Manusia hanyalah makhluk yang lemah, sebagai hamba yang dhoif, yang sering berbuat khilaf dan salah, yang sering lalai dan lalai lagi. Manusia bukanlah malaikat atau seorang nabi yang selalu mentaati dan tunduk patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Nabi dan Rasul adalah juga manusia biasa. Nabi dan Rasul diberi kelebihan oleh Allah SWT :

  • Dijaga oleh Allah dari dosa
  • Sebagian bisa langsung menerima wahyu dari Allah dan sebagian melalui perantara malaikat Jibril.
  • Sebagian diberi mukjizat untuk meyakinkan umatnya.

Tugas utama Nabi dan Rasul adalah pembawa khabar gembira bagi umatnya yang mau mengikuti ajaran-ajarannya berupa kebagagiaan Surga dan sebagai pemberi peringatan bagi umatnya yang membangkang terhadap ajaran-ajarannya berupa siksa di Neraka nantinya.

Nabi dan Rasulpun dalam dakwahnya penuh denga ujian-ujian dan cobaan-cocaan, seperti antara lainyang dialami oleh:

  • Nabi Ibrahim a.s

Dalam dakwahnya, hanya sedikit umatnya yang mengikuti ajarannya. Mereka masih menyembah ajaran nenek moyangnya (termasuk ayah kandung nabi Ibrahim) yang masih menyembah berhala-berhala.

Disaat seluruh penduduk pergi keluar kota, saat itulah kesempatan nabi Ibrahim untuk menghancurkan semua berkala-berhala kecuali satu berhala yang dibiarkan utuh.

Pagi harinya penduduk dan raja Namrud menenuka seluruh berhala berantakan dan diputuskan nabi Ibrahim sebagai pelakunya harus dihukum dengan “dibakar hidup-hidup”

Atas izin Allah SWT, maka selamatlah nabi Ibrahim dari amukan si jago merah.

Allah berfirman,

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (Al-Anbiyaa [21]: ayat 69)

  • Nabi Ayub a.s

Nabi ayub adalah nabi yang paling bersabar dalam menjalani kehidupannya. Nabi yang suka berinfaq dan sadakah kepada rakyat yang tidak mampu.Cobaan-cobaan yang dialami nabi Ayub luar biasa beratnya namun “hati”nya tetap bertaqwa, beriman dan beramal shalih berupa:

- Dicoba oleh Allah dengan habis seluruh harta kekayaannya, tapi nabi Ayub tetap pada keimanannya kepada Allah SWT.

- Dicoba dengan habis (meninggal) seluruh anak-anaknya ditimpa bencana alam, nabi dan istrinya tetap sabar dan tabah menghadapinya.

- Dicoba oleh Allah dengan penyakit kulit yang amat sangat parah beberapa tahun lamanya, nabi tetap pada kesabarannya tetap pada ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Akhirnya ujian demi ujian berhasil dilaluinya, nabi dikembalikan seperti semula, sehat wal afiat, berkumpul lagi dengan istrinya dan melahirkan putra-putrinya dengan jumlah yang sama ketika sebelum diuji Allah SWT. Hartanya dikembalikan Allah bahkan berlebih. Inilah buah dari ketaqwaan dan kesabaran yang dialami nabi Ayub.

  • Nabi Nuh a.s.

Ratusan tahun nabi Nuh berdakwah dan hanya sedikit didapati umatnya yang beriman, nabi Nuh disuruh Allah SWT untuk membuat kapal dan dipersilahkan hamba-hamba yang beriman untuk ikut dalam kapal sebelum akhirnya seluruh umatnya yang kafir ditenggelamkan oleh Allah SWT termasuk istri dan anak laki-lakinya.

Dan masih banyak lagi ujian-ujian yang dialami oleh nabi-nabi yang lain.

Dosa yang berulang-ulang yang seseorang lakukan telah membuat hatinya resah dan gelisah…, lalu apa kira-kira yang bisa dia lakukan untuk mengatasi dan menghilangkan beban dosa tersebut?

Rasullullah bersabda,

“Setiap anak adam pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas)

Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya taubat/memohon ampun agar dilakukan secara kontinyu dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan pernah lepas dari kekurangan/ kesalahan, namun setiap makhluk bertingkat-tingkat dalam kekurangan tersebut sesuai dengan takdirnya masing-masing. Dan hal itu akan ditutupi Allah SWT dengan adanya taubat.

Ya, itulah solusi yang “cerdas” bagi siapa saja yang pernah melakukan dosa besar, melanggar larangan Allah SWT, tidak ada solusi lain kecuali hanya dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri” (Al-Baqarah [2]: ayat 222)

Siapa yang tidak ingin disukai, siapa yang tidak ingin dicintai dan disayangi oleh Allah yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Penyayang, Maha Pengampun? Hanya orang-orang yang kurang waras aja yang menjawab “tidak!”.

Sedangkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman ini masih sehat jasmani-ruhani. Alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kita kekuatan akal untuk berpikir jalan mana yang harus kita tempuh, Allah masih memberikan kepada kita kekuatan iman untuk terus memperbaiki diri, untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Alangkah ruginya manusia jika menyia-nyiakan kesempatan waktu hidup didunia ini untuk selalu berbuat yang lebih baik dan lebih baik lagi. Alangkah bangkrutnya manusia (yang hatinya masih kotor ini) jika masih saja memberikan kesempatan pada nasfunya untuk berleha-leha, untuk menunda-nunda bertaubat, untuk menunda-nunda memperbaiki diri.

Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, jangan menunda-nunda untuk bertaubat, kita harus segera bertaubat sekarang…. detik ini juga…, kapan lagi…selagi nyawa masih melekat dibadan.

Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya seseorang untuk beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT agar dilakukan secara kontinyu dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Namun setiap manusia bertingkat-tingkat dalam kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan sesuai dengan takdirnya masing-masing, dan hal itu insya Allah bisa dihapus atau ditutupi dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW sendiri, manusia yang paling sempurna diantara seluruh makhluk ciptaan Allah SAW yang sudah dijamin masuk Surga tanpa hisab, beliau setiap hari selalu memohon ampun / beristighfar kepada Allah SWT minimal 100 kali dalam sehari.

Sudahkah kita sebagai manusia biasa ini melakukan apa yang sudah Rasulullah Muhammad SAW contohkan kepada umatnya untuk selalu beristighfar minimal 100 kali dalam sehari?

Rasulullah bersabda,

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (H.R. Bukhari)

Sesuai dengan hadits Rasullullah tersebut diatas, maka marilah wahai hamba-hamba Allah untuk bersegera melakukan taubat kepada Allah SWT yang dengan taubat ini akan mensucikan jiwa dari segala kotoran-kotorannya dan membersihkan hati dari segala kotoran hati. Karena dosa-dosa adalah karat yang akan terus menempel dan melekat pada hati dan penghalang dari segala hal yang dicintai Allah SWT. Karat-karat itu kalau dibiarkan akan menghitam dan mengeras bagaikan batu dan karat-karat itu hanya bisa dibersihkan dengan beristighfar ataupun memohon ampun langsung kepada Allah SWT.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT untuk selalu beristighfar dan bertaubat yang hukumnya “wajib” bagi setiap muslim…, siapapun dan dimanapun dia berada dan tidak bisa ditawar-tawar maupun ditunda-tunda lagi.

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka akan terjadi bintik hitam didalam hatinya. Jika ia bertaubat dan melepaskan dosa tersebut serta beristighfar, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia menambah dosanya, maka bintik hitam tersebutpun akan bertambah hingga menutupi hatinya” (H.R.Bukhari)

HINDARI TERLALU CINTA DUNIA

Rasulullah Muhammad SAW adalah suri tauladan kaum muslimin (uswatun hasanah) dalam berbagai hal. Segala sikap dan perilakunya bila ditiru akan membuat penirunya menjadi orang yang bahagia dunia dan akhirat. Begitu pula dalam menghadapi kehidupan. Rasulullah telah memberikan teladan melalui ucapan dan tindakannya. Beliau telah memberikan contoh dalam memperlakukan dan memandang kehidupan di dunia ini.

Rasulullah Bersabda,

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Itulah sikap yang diajarkan Rasulullah kepada kita umatnya. Dalam hadits yang diceritakan Ibnu Umar dan diriwayatkan Imam Bukhari ini kita bisa mengerti bahwa Rasulullah menginginkan umatnya memiliki sikap zuhud (sederhana) terhadap dunia. Sebab sikap inilah yang akan membuatnya selamat dari jeratan harta kekayaan dan pesona dunia lainnya.

Seorang pengembara (hidup di dunia) atau musafir biasanya hanya akan mengambil dan membawa perbekalan “secukupnya” saja (tidak berlebihan dalam mencari kekayaan). Bila ia kelebihan bekal, niscaya bekal itu akan membebaninya dan dapat membuatnya tidak dapat mencapai tujuan (kebahagiaan Surga).

Begitu pula seorang musafir hanya akan singgah sebentar (hidup di dunia) di perjalanan. Hal itu dilakukannya untuk memulihkan kondisi tubuhnya, agar esoknya ia siap setiap saat untuk melanjutkan perjalanannya dengan baik dan sampai ke tujuan dengan selamat (mencapai Surga).

Kita hidup di dunia ini ibarat seorang musafir, kita seharusnya patuh dan tunduk terhadap petunjuk Allah SWT selama menjalani pengembaraan di dunia ini. Sebab, kepatuhan dan ketundukan kita terhadap semua perintah-Nya akan membuahkan hasil berupa hadiah yang telah dijanjikan-Nya, yaitu Surga.

Begitu pula dengan keingkaran kita terhadap semua perintah-Nya akan membuahkan hasil berupa kemurkaan dan adzab-Nya yang sangat pedih, yaitu Neraka. Apa yang akan kita peroleh kelak…semuanya tergantung bagaimana tingkah laku kita selama menjalani pengembaraan di dunia ini, apakah mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya atau mengingkari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karenanya, berpedoman kepada Rasulullah dalam menjalani pengembaraan di dunia ini adalah solusi yang terbaik. Bila Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk bersikap zuhud (sederhana) terhadap dunia, maka mengamalkan seruannya adalah cara yang paling tepat. Rasulullah SAW tidak hanya menyeru, tetapi mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih termasuk berinfaq dan sadakah, paling bersemangat dalam ibadah dan paling gigih dalam berjihad.

Kehidupan beliau sangat sederhana. Dalam sirah nabawiyah dan hadits yang diceritakan sahabat, kadang beliau tidak makan sampai tiga hari. Sehingga pernah beberapa kali para sahabat melihat Rasulullah membalutkan kain yang diisi beberapa batu untuk mengganjal perutnya yang sangat lapar. Bahkan pernah suatu waktu Abdullah bin Mas’ud menangis karena melihat Rasulullah SAW hanya tidur di atas tikar dari pelepah kurma yang sangat lusuh. Saat Abdullah bin Mas’ud menawarkan kasur kepadanya, beliau malah menolaknya.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata,

“Adakalanya Rasulullah SAW dan keluarganya lapar beberapa malam berturut-turut, karena tidak mempunyai apa-apa untuk makan malam, dan roti yang sering mereka miliki adalah roti gandum.” (HR. Tirmidzi).

Itulah Rasulullah SAW yang mulia. Kesederhanaanya tidak membuat wibawanya jatuh. Bahkan sikap hidupnya yang sederhana makin membuat keagungan dan kemuliaan pribadinya. Apa susahnya bagi Rasulullah untuk menikmati harta dan kekayaan sebagai penguasa tunggal pada jamannya?

Beliau adalah seorang pemimpin negara. Harta rampasan dalam setiap peperangan selalu melimpah ruah, akan tetapi yang beliau ambil hanyalah seperlunya saja, hanya untuk kebutuhan beberapa hari saja. Seharusnya kita pengikutnya yang setia memperlakukan dunia sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Hubbud Dunya (cinta dunia)

Saat ini, kita seolah-olah sudah kehilangan figur pribadi yang sederhana. Kondisi ekonomi di Negara kita yang sedang krisis ini tidak menyadarkan kita untuk kembali kepada gerakan hidup sederhana. Justru yang terjadi sebaliknya, masyarakat berlomba-lomba dengan berbagai cara dalam menumpuk-numpuk harta.

Mereka tak peduli lagi mana yang “halal” dan mana yang “haram”. Semua dikumpulkannya hanya untuk memenuhi nafsu perutnya. Kita telah terpedaya oleh budaya konsumtif dan materialistis…yang semuanya itu hanyalah perhiasan dunia…yang semu.

Allah berfirman,

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.(Huud 11]: ayat 15)

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan . (Huud [11]: ayat 16)

Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya bahwa akan datang suatu masa dimana sebagian umat Islam perutnya tampak gemuk dan besar, mereka tidak dapat dipercaya dan juga tidak menepati janji. Ini akibat pengaruh adanya makanan haram di dalam perutnya, yang menumbuhkan daging yang karam dalam tubuhnya, sehingga akhlaknya menjadi tidak terpuji.

Oleh karena itulah untuk menghindari apa yang digambarkan Rasulullah sebagian umat yang membuncit perutnya, maka sejak masih kecil biasakan anak-anak kita untuk hati-hati dalam memasukkan makanan ke dalam perutnya, jangan sampai anak-anak kita kemasukan makanan yang haram dan usahakan antara berat tubuh, tinggi baban dan usia anak yang seimbang.

Kalau dari kecil sang anak sudah over weight (kegemukan), maka apa yang dipikirkan sang anak /yang ada dibenaknya hanyalah makan…makan…dan makan. Hal inilah yang akan menurunkan generasi umat Rasul dengan perut membuncit yang sangat kering dan gersang dengan siraman ruhani.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, dan yang sesudahnya lagi.” (HR. Bukhari)

Budaya materialisme yang sedang melanda dunia modern ini, yang sedang mengepung kita adalah satu penyakit yang bila dibiarkan akan mengikis habis keimanan kita. Materialisme ini adalah salah satu turunan dari penyakit cinta dunia (hubbud dunya). Terlalu cinta dunia adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Allah berfirman,

Janganlah sekali-kali kamu kagum dan terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.

(Ali-Imran [3]: ayat 196)

Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.

(Ali-Imran [3]: ayat 197)

Penyakit ini muncul pada diri seorang muslim karena melemahnya iman. Oleh sebab itu, menyadarkan umat yang sedang terlena dalam nina-bobo dunia adalah sebuah tindakan yang terpuji. Bila hal ini terus dibiarkan, maka umat Islam berada diambang kemunduran bahkan diambang kehancuran. Kita harus menyadarkan kembali umat Islam dimanapun mereka berada tentang hakikat dunia dan akhirat. Keimanan terhadap hari akhir harus kembali dimunculkan.

Makin “tebal” keimanan terhadap hari akhir dan pembalasan, akan makin takut ia bercengkrama dengan dunia dan menumpuk-numpuk harta. Dengan begitu, akan makin tenang dalam memandang kehidupan.

Sebaliknya, makin “tipis” keimanan terhadap hari akhir dan pembalasan, ia pasti makin rakus dan jahat dalam mencari dunia dan yang mereka pikirkan hanya dunia…dunia…dan dunia, mereka tidak peduli, tidak mau tahu kesudahannya nanti, yaitu kehidupan sesudah hidup di dunia yang fana ini.

Setiap muslim dimanapun kita berada harus mempunyai satu “visi” yang sama dalam mengarungi kehidupan dunia ini… yaitu mendambakan “kebahagiaan dunia-akhirat”.

Untuk mencapai visi kebahagiaan dunia-akhirat tersebut, maka kita umat Islam harus punya satu “misi” yang sama yaitu hidup ini hanya untuk “beribadah” kepada Allah SWT.

Allah berfirman,

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.

(Adz-Dzariyaat [51]: ayat 56)

Pengertian beribadah ini tidak hanya shalat wajib 5 waktu sehari semalam saja, ataupun shalat sunnah yang lain, akan tetapi apapun profesi kita didalam mengarungi kehidupan dunia ini:

  • Sebagai seorang dokter, jadilah dokter yang Islami…, yang yakin seyakin-yakinnya bahwa penyakit datangnya dari Allah SWT dan yang menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT. Dokter adalah hanya sebagai perantara, wakil Allah di bumi ini dalam hal kesembuhan penyakit seseorang. Alangkah mulianya seorang dokter jika setiap mau mengobati pasien diawali dengan do’a, minimal baca “bismillahiraman nirahim” dan diakhiri dengan baca “alhamdulillahi rabbil ‘alamin”.
  • Begitu juga bagi seorang insinyur, dosen, guru, ekonom, hakim, jaksa, sopir, pedagang, ibu rumah tangga dan lain-lain profesi…selama aktivitas sehari-hari mereka diniatkan “ikhlas” hanya untuk Allah SWT (lillahi Ta’ala), maka semua kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dinilai “ibadah” oleh Allah SWT.

Dengan demikian, mengembalikan umat kepada fitrahnya “hanya untuk beribadah kepada Allah SWT” adalah sebuah keharusan bila kita sebagai hamba-hamba Allah SWT yang bertaqwa ini, yang menginginkan kehidupan yang selamat baik di dunia maupun di akhirat nanti.

“SEHAT ITU MAHAL”

Sehat itu mahal harganya, apabila tubuh kita ini sehat maka kehidupan kita… disadari atau tidak, insya Allah senantiasa merasa tenang, senang, lapang dan beraktifitas dengan maksimal untuk kesempurnaan hidup.Akan tetapi sebaliknya bila tubuh kita tidak sehat dapat dipastikan kegiatan akan terhambat, tidak bersemangat, mudah sekali emosi atau tersinggung sehingga hari-hari akan dilalui dengan suram.

Seperti yang kita tahu bahwa kita sebagai muslim sering mendengar bahwa “Al-Qur’an adalah penyembuh segala penyakit” dan “Tidak akan berubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau berusaha untuk merubahnya”.

Berbagai cara digali, dikelola dan diklaim berasal dari Al-Qur’an untuk mengupayakan kesembuhan penyakit. Mulai dari membaca satu atau beberapa ayat hingga sekian puluh kali, ratusan bahkan ribuan kali hingga do’a-do’a khusus yang dibaca agar penyakit bisa berpindah ketubuh hewan. Kesemuanya itu upaya-upaya yang bertujuan untuk kesembuhan suatu penyakit. Selama ikhtiar-ikhtiar untuk kesembuhan tidak ada unsur syirik dan perantara jin / syaitan, maka upaya untuk kesembuhan itu masih diperbolehkan.

Belum lagi yang berikhtiar ke paranormal khusus mohon kesembuhan, pergi kedokter mulai dari dokter umum hingga yang sudah bergelar professor, meminum obat-obatan hingga operasi sampai keluar negeri dengan biaya yang selangitpun dijalani untuk kesembuhan penyakit.

Pertanyaannya adalah apakah semua ikhtiar itu benar? Apakah semua itu pasti berhasil?

Wallahualam pada kenyataannya banyak yang berakhir di ritual-ritual sesat atau berakhir di meja operasi, naudzubillahimindzalik…Semua adalah ikhtiar, semua adalah usaha agar kita menjadi sembuh dan sehat. Selama tidak bertentangan dengan ajaran agama (syirik), insya Allah hal itu sah-sah saja.

Tapi sebenarnya tahukah kita bahwa segala penyakit itu datangnya dari diri kita? Bukan berasal virus, kuman bakteri, nyamuk, mutasi sel dan sebagainya. Memang ketika kita sakit ketika diteliti ada yang namanya virus, kuman, bakteri yang merajalela didalam tubuh kita tapi itu bukanlah sebab… itu hanyalah akibat !!

Ya…. semua yang diklaim sebagai sebab sakit sebetulnya adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, tingkah laku kita sehari-hari yang kurang terpuji dihadapan Allah SWT. Dimana perilaku yang kurang terpuji tersebut menjadikan Malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkan keburukan-kebukukan kita di hadapan Allah SWT, dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin sudah berpuluh-puluh tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan suatu musibah berupa penyakit sebagai pengingat kita agar segera kembali kejalan-Nya, jalan yang benar yang diridhai-Nya.

Berbagai hal penyakit ini mungkin luput dari perhatian kita semua, tapi hal itu sudah terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah 14 abad lalu dan sudah dijamin keabsahannya dan kebenarannya serta tak terbantahkan hingga akhir jaman bahkan Allah SWT sendiri yang menjamin dan menjaga keaslian kandungan isi Al-Quran.

Coba kita renungkan ayat-ayat berikut, mari kita baca satu-persatu dengan pelan, teliti dan arif.

Allah berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.(As-Syuura [42] : ayat 30-31)

Nah…….sudah jelas disini bahwa apapun musibah itu yang menimpa kita adalah awalnya karena perbuatan kita sendiri, karena kesalahan-kesalahan kita sendiri, karena dosa-dosa kita sendiri, astaghfirullah.. Apakah memang benar seperti itu hanya karena dosa dan kesalahan kita saja dan bukan seperti apa yang sudah kita yakini selama ini bahwa penyakit datangnya dari virus, kuman bakteri, pemanasan global, lapizan ozon dan sederet alasan ilmiah lain? Jawabannya adalah benar!!!

Mengapa terlihat sederhana sekali? Mengapa hanya karena dosa dan kesalahan kita lalu tiba-tiba kita bisa menderita suatu penyakit bahkan hingga yang parah sekalipun? Sebenarnya tidak sesederhana itu, pada ayat diatas Allah sudah menerangkan bahwa dosa dan kesalahan kita banyak sekali diampuni oleh-Nya, karena kita sendiripun tidak akan sadar bahkan mungkin tidak bisa menghitung dosa kita setiap harinya.

Dosa dan kesalahan itu kita kerjakan terus menerus dari hari kehari, bulan ke bulan bahkan hingga berpuluh-puluh tahun, barulah Allah akan menurunkan suatu musibah… dalam hal ini penyakit semata-mata hanya sebagai hukuman, sebagai peringatan, sebagai sentilan, sebagai jeweran bagi kita agar segera sadar bahwa kita memang banyak salah dan dosa agar kita segera mau kembali ke jalan Allah. Sudah jelas disini disebutkan kata-kata “pelindung dan penolong” berarti kalau kita mau selamat dari musibah, kalau kita mau sembuh dari penyakit maka kita harus kembali kepada pelindung dan penolong kita yaitu Allah SWT.

Allah berfirman,

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisa [4]: ayat 79)

Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Nissa [4]: ayat 111)

Jadi, setiap kita mendapat musibah… terimalah dengan ikhlas… dan mulailah introspeksi diri kita…kenapa musibah ini menimpa diri kita? Mungkin selama ini kita tidak sadar telah berbuat salah dan dosa, baik kepada sesama manusia atau kepada Allah SWT.

Semoga dengan sedikit renungan ini bisa membantu kita semua agar bersegera kembali, bersegera meminta ampunan dan perlindungan Allah SWT. Dan jika ada kebenaran yang tertuang dalam renungan ini semata-mata itu hanyalah karena Rahmat Allah SWT dan jika ada kesalahan yang tertuang dalam renungan ini semata-mata dikarenakan kekhilafan kami sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan dosa.

Sunday, November 8, 2009

Hidup Sederhana


Pada dasarnya manusia mempunyai kecendrungan terhadap harta benda, berupa makanan, pakaian, uang dan sebagainya. Untuk mendapatkan apa yang diinginkannya maka manusia berikhtiar dengan berbagai cara, seperti berdagang, bercocok tanam, menjadi buruh, karyawan serta profesi lainnya.

Kecintaan terhadap harta benda akan meningkat dengan bertambahnya usia dan bertambahnya pengetahuan, adakalanya orang kaya akan makin rajin berusaha dan kadangkala melupakan kewajiban lainnya, bahkan melupakan Allah Swt.

Disamping harta itu banyak manfaatnya bagi manusia adakalanya harta itu menyibukkan dan dapat merusak jiwa dengan berbagai macam penyakit, berupa tidak enak makan.

Harta bukanlah jaminan untuk mendapat kebahagiaan, karena kebahagiaan tidak terletak pada materi, atau harta benda yang melimpah ruah. Kebahagiaan yang hakiki terletak pada bathin atau jiwa sebagaimana sabda Rasulullah Saw : "Kekayaan itu tidak terletak pada harta yang banyak, sesungguhnya kekayaan itu adalah kaya Jiwa (yakni senang hati)".(HR:Muttafaq 'alaih).

Membelanjakan harta yang bersifat tengah-tengah membutuhkan perhitungan yang matang, dengan memperhitungkan uang yang ada dan barang yang dibutuhkan dengan sederhana. Agar kebutuhan yang kita laksanakan menjadikan hidup kita hidup yang sederhana dengan tidak mengumbar harta benda dengan berlebihan, tatkala itu semua menjadikan akhir hidup kita dengan kemelaratan.

Tidak sedikit orang yang hidup di dunia ini mengejar harta dan materi yang berlebihan, tidak mengenal siang dan malam, tidak mengenal istirahat bahkan sampai melupakan Tuhan yang menciptakannya, berakibat fatal bagi hidupnya. Karena kalau harta yang dikejarnya tidak kesampaian, atau habis terbakar, dicuri dan dirampok dan sejenisnya bisa membawa mereka kepada Stres bahkan sampai menjadi gila.

Oleh karena itu apabila kita hidup dengan Qana'ah, Insya Allah ketengan hidup akan diperoleh, baik di dunia ataupun di akhirat kelak.. Amin.....
toolbar powered by Conduit